Solusi Agar Pemuda Indonesia Mau Menjadi Petani dan Sukses di sektor pertanian

Indonesia sedang krisis petani. Dalam satu dekade terakhir terdapat indikasi penurunan minat masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terjun dalam sektor pertanian. Sensus Pertanian 2003 misalnya, menunjukkan Rumah Tangga Petani yang semula berjumlah 31,23 juta RTP, menurun menjadi 26,13 juta RTP atau turun 16,3 persen pada tahun 2013.

Data BPS juga menunjukkan hanya 12 persen dari total yang ada saat ini yang berusia dibawah 35 tahun. Sisanya merupakan petani tua berusia di atas 45 tahun. Data lain menunjukkan hanya tiga persen anak petani yang melanjutkan kiprah orang tuanya sebagai petani.
Oleh karena itu ada beberapa ide menarik yang bisa dilakukan petani muda, yang sering disebut dengan petani millenial. berikut adalah beberapa jenis pertanian yang cocok untuk era sekarang :

1. Berkebun buah tropis seperti Mangga, Pepaya, Jambu air, Nanas, Pisang, Buah naga dll. 
sering kali kita kurang jeli dalam melihat potensi pasar internasional, jika kita menanam buah di skala besar maka akan terpikir bagaimana kalau panen raya nanti?, bagaimana jika hasil panen tidak terserap pasar? bagaimana jika harga komoditas yang saya tanam anjlok?. itu adalah sedikit contoh dari banyak kekhawatiran petani muda Indonesia.
Padahal negara kita adalah penggalan surga, dimana di negara subtropis buah kita menjadi idola mereka, kita bisa mencari perusahaan eksportir buah tropis dan berdiskusi tentang komoditas apa yang mereka inginkan. kita bisa bekerja sama dengan mereka dengan sistem kemitraan dan sebagainya.


2. Berkebun dan bertani hidroponik dan Organik
pada era modern pertanian tradisional sudah mulai ditinggalkan karena adanya bakteri dan pestisida yang berlebih yang merugikan kesehatan, masyarakat menengah atas sudah mulai peduli kesehatan, mereka lebih memilih produk organik dan hidroponik yang bersih dan bebas pestisida.
pasti dalam benak anda apakah hasil panen organik saya dapat diserap pasar? itu juga yang pertama saya khawatirkan, sampai saya ketemu koki restoran bintang 3 keatas yang meminta bahan salad berupa tanaman hidroponik yang bebas pestisida, mereka mengeluh merasa kesulitan mencari supplier di indonesia.

3. Menanam Tanaman Obat dan bunga
tanaman obat yang sederhana dan memiliki manfaat banyak adalah daun kelor, mahkota dewa, kunyit, lengkuas, jahe, kencur dan lain – lain. harganya memang tidak mahal, didaerah saya satu zak kunyit dijual 75 ribu. pasti terpikir oleh anda bagaimana kita bisa mendapatkan hasil yang melimpah dari menanam komoditas yang harganya murah?. saya pernah survey ke beberapa pabrik jamu di semarang dan solo, menawarkan 1 truk kunyit basah saya satu persatu, praktis mereka menolak dan akhirnya saya pun rugi karena lambat laun kunyit saya mulai membusuk.
akan tetapi kedepan mereka meminta supply kunyit dan bahan obat lain dalam kondisi kering 90%. dengan harga fantastis, 1 zak atau 50 kg kunyit basah yang dijual petani 75 ribu saja, jika dikeringkan menghasilka 17 Kg kunyit kering dimana harga kunyit kering adalah Rp. 13.000/kg. jadi dengan sedikit usaha petani yang awalnya menjual kunyit dengan Rp. 75.000 per zak dapat menjual 3 kali lipat menjadi Rp. 220.000 per zak. itu contoh kecil cerita kunyit, belum daun kelor dan sebagainya.
Selain itu kita juga dapat menanam beberapa jenis bunga, dengan menanam bunga kita dapat juga beternak lebah dan menghasilkan madu dengan gratis, selain itu kita dapat menyuling bunga yang tidak terjual menjadi bahan baku minyak wangi, selain itu kita juga dapat membuat kebun kita sebagai destinasi wisata dan tempat fotografi, kita dapat menarik retribusi dan pastinya jika banyak pengunjung juga akan meningkatkan perekonomian warga setempat.

Sekian duru dari say ajika artikel ini menginspirasi anda, tolong sebarkan ke orang lain agar mereka juga terinspirasi, dan menjadi tuan rumah di negeri kita tercinta ini. salam sukses pemuda milenial, salam sukses petani milenial.



Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Loading...